September 27, 2010

pengolahan citra satelit pada Terumbu Karang

Sebelum kita masuk ke pokok pembicaraan, ada baiknya kita harus tau apa itu “Pengolahan Citra “
Citra (istilah lain untuk gambar) adalah salah satu komponen multimedia yang memegang peranan sangat penting sebagai bentuk informasi visual. Citra memiliki karakteristik yang tidak dimiliki oleh data teks, yaitu citra kaya akan dengan informasi.

walaupun sebuah citra kaya akan informasi, namun seringkali citra yang kita miliki
mengalami penurunan mutu (degradasi), misalnya mengandung cacat atau derau
(noise), warnanya terlalu kontras, kurang tajam, kabur (blurring), dan sebagainya.
Tentu saja citra semacam ini menjadi lebih sulit diinterpretasi karena informasi
yang disampaikan oleh citra tersebut menjadi berkurang atau susah dipahami.

Nah, Agar citra yang mengalami gangguan mudah diinterpretasikan oleh manusia
maupun mesin, maka citra tersebut perlu dimanipulasi menjadi citra lain yang
kualitasnya lebih baik. Bidang studi yang menyangkut hal ini adalah pengolahan
citra (image processing).
Pada kali ini saya akan sedikit memberikan penjelasan tentang aplikasi pengolahan citra pada Terumbu Karang, Yang telah kita ketahui sebelumnya Pusat keanekaragaman hayati laut dunia, terutama terumbu karang terletak di kawasan segitiga karang. Kawasan ini meliputi Indonesia, Philipina, Malaysia, Timor Leste, Papua New Guinea dan Kepulauan Salomon. Jika ditarik garis batas yang mencakup wilayah terumbu karang di ke-6 negara tersebut maka akan menyerupai segitiga. Itulah sebabnya wilayah tersebut disebut sebagai segitiga karang dunia (coral triangle). Total luas terumbu karang di coral triangle sekitar 75.000 Km2.
Indonesia sendiri memiliki luas total terumbu karang sekitar 51.000 Km2 yang menyumbang 18% luas total terumbu karang dunia dan 65% luas total di coral triangle. Potensi lestari sumberdaya perikanan yang terkandung di dalamnya diperkirakan sebesar 80.802 ton/km2/tahun (Dahuri dkk, 1996). Saat ini, kepulauan Raja Ampat di Papua Barat merupakan kepulauan dengan jumlah jenis terumbu karang tertinggi di dunia. Berdasarkan sebuah kajian ekologi yang dipimpin oleh The Nature Conservancy (TNC) dengan melibatkan para ahli terumbu karang dan ikan dunia pada tahun 2002, ditemukan sekitar 537 jenis karang dan 1074 jenis ikan di kepulauan Raja Ampat.
Pemetaan terumbu karang dengan satelit sumber daya alam sebenarnya sudah berkembang sejak lama. Diawali oleh Lyzenga (1981) yang memetakan material penutup dasar perairan North Cat Cay – Bahama dari citra Landsat MSS. Berdasarkan pengamatan in situ dengan foto bawah air, pantulan dasar dapat dibagi ke dalam empat klas, yaitu: batas area bervegetasi, perlapisan Thalasia, pasir karbonat berwarna putih, dan lapisan tak bervegetasi yang keras.
Pada lautan yang luas, sifat optis air dianggap seragam akibat percampuran horisontal, sedangkan kedalaman air sangat bervariasi dan secara umum tidak dapat diketahui pada tempat tersebut. Prinsip ini mendasari Lyzenga (1978) untuk mengembangkan teknik penggabungan informasi dari beberapa saluran spektral untuk menghasilkan indeks pemisah kedalaman (depth-invariant index) dari material penutup dasar perairan. Parameter masukan dalam algoritma ini adalah perbandingan antara koefisien pelemahan air (water attenuation coefficient) pada beberapa saluran spektral. Algoritma ini menyadap informasi material penutup dasar perairan berdasarkan kenyataan bahwa sinyal pantulan dasar mendekati ‘fungsi linier’ dari pantulan dasar perairan dan merupakan ‘fungsi eksponensial’ dari kedalaman.
Di Indonesia, Siregar (1996) menurunkan algoritma Lyzenga untuk memetakan material penutup dasar perairan laut dangkal di Pulau Serangan, Bali. Metode penelitian yang digunakan adalah operasi penggabungan dua kanal tampak TM1 dan TM2 yang dapat penetrasi ke dalam tubuh air hingga kedalaman tertentu, sehingga dapat digunakan untuk identifikasi obyek di dasar perairan laut dangkal. Citra hasil penggabungan memberikan penampakan dasar perairan laut dangkal yang secara visual lebih jelas dibandingkan dengan penampakan obyek pada dua kanal secara terpisah. Sebagai tambahan, COREMAP (Coral Reef Rehabilitation and Management Program) menggunakan metode ini dalam pekerjaan penyediaan informasi luas dan sebaran terumbu karang di seluruh perairan laut Indonesia.
pemetaan terumbu karang menggunakan citra satelit merupakan alternatif yang dapat dikedepankan dengan melihat kenyataan bahwa pengamatan obyek bawah air dapat dilakukan melalui citra pada kondisi air laut yang jernih dan mempunyai karakteristik yang homogen. Apalagi sejak diluncurkannya Landsat-5 yang membawa sensor Thematic Mapper pada tahun 1984, banyak penelitian di bidang kelautan yang memanfaatkan citra ini karena memiliki Keunggulan dalam hal resolusi spasial, resolusi spektral, dan resolusi temporal menjadi alasan utama para ahli untuk menggunakannya.
Keunggulan
Pemanfaatan citra satelit sumberdaya alam dirasakan sangat menguntungkan untuk kegiatan pemetaan, pemantauan, dan manajemen lingkungan terumbu karang yang sangat luas. Maritorena (1996) telah membuktikan hal ini di Polynesia Prancis, dimana daerah penelitian terdiri dari sekitar 120 pulau yang tersebar merata di atas 2,5 juta km2 Samudera Pasifik bagian selatan. Citra Landsat TM yang mempunyai luas liputan 185 x 185 km2 dengan resolusi spasial 30 meter dan resolusi temporal 16 hari, sangat efektif untuk tujuan pemetaan yang tidak terlalu detil.
Demikian juga dari segi biaya dan waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan. Estimasi dari CSI (Coastal Regions and in Small Islands) menunjukkan bahwa untuk melakukan pemetaan terumbu karang Kep. Caicos seluas 150 km2 diperlukan biaya (termasuk pengadaan fasilitas pengolah citra digital) sebesar: £33.570 untuk Landsat TM, £33.020 untuk SPOT XS, £57.620 untuk CASI, dan £47.120 untuk interpretasi Foto Udara. Sedangkan waktu yang diperlukan berturut-turut adalah 98, 97, 117, dan 229 hari. Ternyata penggunaan citra satelit membutuhkan biaya yang paling rendah dan waktu pengerjaan yang lebih cepat.
Sumber : http://sutikno.org/, tips-tipskomputer.blogspot.com